LAPORAN MINI RISET
TRADISI ZIARAH MAKAM DAWA DI DESA DANASARI
BUNGIN
KABUPATEN PEMALANG
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Islam
dan Budaya Jawa
Dosen
Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si
\
Disusun oleh :
Fitri
Meiyenny (123411043)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Kebudayaan
adalah keseluruhan cara hidup manusia dengan segala warisan sosial yang
diperoleh dari kelompoknya. Salah satu bentuk kebudayaan yang dapat dilihat dalam
kehidupan dan sistem keagamaan masyarakat Jawa adalah ritual, sebuah upacara
sakral yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu, untuk tujuan tertentu,
dengan pola tertentu, pada waktu tertentu, menggunakan benda–benda tertentu,
guna mendapatkan hal tertentu dari yang gaib.
Sedangkan kebudayaan
yang akan kita bahas sekarang adalah salah satu tradisi yang mana di dalamnya
terdapat nilai-nilai Islami tetapi tidak menghilangkan jiwa “njawani” dari
tradisi tersebut. Sebegitu apiknya kulturisasi tersebutsehingga menjadikan
tradisi ziarah makam dawa/dowo erat
dengan kebiasaan masyarakat Desa Danasari khususnya Dukuh Bungin.
Bagaimana
jelasnya tradisi ziarah tersebut? akan dikupas dalam mini riset ini.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana sejarah awal mula ziarah ke makam dawa?
2.
Bagaimana nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah ke makam dawa?
III.
KONDISI LAPANGAN
1. Sejarah Awal Mula Ziarah ke Makam Dawa
Istilah ziarah berasal dari bahasa Arab
“mengunjungi” atau “bertandang” atau “nyekar” yang dalam istilah orang Jawa
berarti meletakkan bunga di atas makam, sebuah istilah yang juga digunakan
untuk kegiatan ritual ke makam. Banyak kelompok masyarakat muslim tradisional
melakukan ziarah ke makam orang suci tertentu karena mereka percaya bahwa tokoh
di dalam kubur tersebut merupakan “idola hati-pujaan jiwa” yang sesuai dengan
kebutuhan pribadi mereka.
Ziarah ke makam dawa atau makam “mbah
umar” yang dipercaya sebagai orang pertama yang menanamkan ajaran Islam di desa
Danasari, adalah salah satu tradisi yang tak dipungkiri lagi sebagai ritual
wajib warga Desa Danasari, khusunya dukuh Bungin. Bisa dibilang mbah Umar adalah
“Cultural Hero” yang diartikan sebagai “para pahlawan suci,
agung, dan sakti” yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kepentingan
dan kebaikan umat, sehingga masyarakat mempercayainya sebagai “jalur mediasi
penting” yang harus dilalui agar doa mereka didengar Tuhan. Para cultural
hero tersebut dipercaya dapat menyentuh dzat Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga
Tuhan mengabulkan permohonan doa dan harapan peziarah makam wong alim itu.
Ziarah ke makam dawa ini
biasanya dilakukan pada hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon, mungkin masyarakat
beranggapan bahwa di hari-hari itulah waktu yang tepat untuk mendoakan almarhum
mbah Umar. Tapi akan menjadi lebih ramai oleh warga Danasari sampai warga Desa
Widuri yang berbondong-bondong datang pada tanggal 16 maulud awal, yaitu hari
haul-nya mbah Umar.
2. Nilai-nilai Islami yang Terkandung dalam Ziarah ke Makam Dawa
Nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah kubur
sendiri adalah untuk mengingatkan manusia akan kematian, bahwa hidup di dunia
ini hanyalah sementara. Tidak hanya itu, ziarah juga sebagai bentuk penghormatan
untuk orang yang telah tiada, setidaknya jasa-jasa mereka di dunia masih bisa
dirasakan hasilnya sampai sekarang.
Dalam berziarah pun tidak lupa membaca ayatullah,
tahlil, dan doa lainnya, dengan tujuan agar ahli kubur diberikan tempat yang
lapang dan diringankan dari siksa kubur.
IV.
ANALISA LAPANGAN
Menurut saudari Ayu Thowilah* (warga dukuh Bungin,
24), ziarah ke makam dawa adalah tradisi yang telah mengakar sejak lama. Sesuai
dengan anggapan bahwa masyarakat jawa sangat menjaga tradisinya sehingga
tradisi itu masih dijalankan sampai saat ini.
Ayu
juga mengatakan bahwa ziarah ke makam dawa sebenarnya bisa dilakukan kapan
saja, tapi memang lebih ramai di hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon apalagi di
tanggal 16 maulud, tidak hanya disesaki oleh penziarah tetapi banyak penjual
jajan-jajan pasar, bunga, mainan pun ada disana. Tujuan berziarah pun
bermacam-macam, tapi untuk general dan tujuan yang paling jelas adalah untuk
mengingat kematian serta mendoakan ahli kubur yang tidak lain adalah orang
pertama yang menanamkan paham Islam di Desa Danasari.
V.
KESIMPULAN
Istilah
ziarah berasal dari bahasa Arab “mengunjungi” atau “bertandang” atau “nyekar”
yang dalam istilah orang Jawa berarti meletakkan bunga di atas makam, sebuah
istilah yang juga digunakan untuk kegiatan ritual ke makam. Ziarah ke
makam dawa atau makam “mbah umar” yang dipercaya sebagai orang pertama yang
menanamkan ajaran Islam di desa Danasari, adalah salah satu tradisi yang tak
dipungkiri lagi sebagai ritual wajib warga Desa Danasari, khusunya dukuh
Bungin.
Ziarah ke makam dawa ini biasanya dilakukan pada hari
Kamis Wage dan Jumat Kliwon apalagi di tanggal 16 maulud, tidak hanya disesaki
oleh penziarah tetapi banyak penjual jajan-jajan pasar, bunga, mainan pun ada
disana. Tujuan berziarah pun bermacam-macam, tapi untuk general dan tujuan yang
paling jelas adalah untuk mengingat kematian serta mendoakan ahli kubur yang
tidak lain adalah orang pertama yang menanamkan paham Islam di Desa Danasari.
Nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah kubur
sendiri adalah untuk mengingatkan manusia akan kematian, bahwa hidup di dunia
ini hanyalah sementara. Tidak hanya itu, ziarah juga sebagai bentuk
penghormatan untuk orang yang telah tiada, setidaknya jasa-jasa mereka di dunia
masih bisa dirasakan hasilnya sampai sekarang.
Dalam berziarah pun tidak lupa membaca ayatullah,
tahlil, dan doa lainnya, dengan tujuan agar ahli kubur diberikan tempat yang
lapang dan diringankan dari siksa kubur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar