My 2nd Confession
Sekarang, disaat aku tak sibuk lagi, pikiran tentangmu pun datang kembali. Apa memang aku yang terlalu naif? terlalu meninggikanmu, dan menganggapmu yang paling pantas untukku. Tapi aku sendiri pun lupa, apakah aku pantas untukmu? Aku tak pernah memikirkan tentang perasaanmu. Karena pikiranku tenggelam dalam perasaanku sendiri, obsesiku, dan impian semuku. Bodoh memang, berharap untuk sesuatu yang dapat ku perkirakan bagaiman akhirnya. Tapi... itu hanya sebuah perkiraan, suatu asumsi yang aku buat untuk menyadarkanku dari khayalan tingkat tinggi ini. Aku tak dapat mengendalikannya lagi. Aku hanya menyukaimu. Menyukai semua yang ada dalam dirimu. Walau kadang kucoba tuk mengingkari rasa ini, meyakinkan diriku bahwa ini rasa semu yang sementara, tapi tak pernah ku temui ujung dari rasa ini. Sampai aku pun takut, apakah ini rasa yang sesungguhnya? yang tak pernah padam, hanya redup sesaat dan membara? atau ini hanya rasa penasaran yang masih membelenggu hati ini? kebaikanmu, kecerdasanmu, kemisteriusanmu, dan kesholehanmu serta baktimu kepada sang ibu, semua itu menarik di mataku. Aku tak tahu mengapa kau selalu terlihat baik di mataku. Ya, mungkin karena aku tidak terlalu mengenalmu.
Dan karena itulah aku berharap tuk mengenalmu lebih dekat, melihatmu dari sisi terang atau gelapmu. Hanya itu harapku, lucu memang. Mengharap sesuatu yang dapat kutebak hasilnya. Aku tahu didalam hatimu telah hadir sosok yang kau pendam. Walau sakit, kucoba tuk terima dengan logika, karena ku tahu, hati ini kan hancur tuk kedua kalinya. Karenamu.
#myP_A_I_N