Selasa, 23 Juni 2015



LAPORAN MINI RISET
TRADISI ZIARAH MAKAM DAWA DI DESA DANASARI BUNGIN
KABUPATEN PEMALANG

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :  Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si

Description: LOGO UIN Walisongo NEW.png\

Disusun oleh :

Fitri Meiyenny                           (123411043)




FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.                   PENDAHULUAN
Kebudayaan adalah keseluruhan cara hidup manusia dengan segala warisan sosial yang diperoleh dari kelompoknya. Salah satu bentuk kebudayaan yang dapat dilihat dalam kehidupan dan sistem keagamaan masyarakat Jawa adalah ritual, sebuah upacara sakral yang dilakukan kelompok masyarakat tertentu, untuk tujuan tertentu, dengan pola tertentu, pada waktu tertentu, menggunakan benda–benda tertentu, guna mendapatkan hal tertentu dari yang gaib.
Sedangkan kebudayaan yang akan kita bahas sekarang adalah salah satu tradisi yang mana di dalamnya terdapat nilai-nilai Islami tetapi tidak menghilangkan jiwa “njawani” dari tradisi tersebut. Sebegitu apiknya kulturisasi tersebutsehingga menjadikan tradisi ziarah makam dawa/dowo erat dengan kebiasaan masyarakat Desa Danasari khususnya Dukuh Bungin.
Bagaimana jelasnya tradisi ziarah tersebut? akan dikupas dalam mini riset ini.

II.                RUMUSAN MASALAH
1.   Bagaimana sejarah awal mula ziarah ke makam dawa?
2.    Bagaimana nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah ke makam dawa?

III.             KONDISI LAPANGAN
1.      Sejarah Awal Mula Ziarah ke Makam Dawa
Istilah ziarah berasal dari bahasa Arab “mengunjungi” atau “bertandang” atau “nyekar” yang dalam istilah orang Jawa berarti meletakkan bunga di atas makam, sebuah istilah yang juga digunakan untuk kegiatan ritual ke makam. Banyak kelompok masyarakat muslim tradisional melakukan ziarah ke makam orang suci tertentu karena mereka percaya bahwa tokoh di dalam kubur tersebut merupakan “idola hati-pujaan jiwa” yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka.
Ziarah ke makam dawa atau makam “mbah umar” yang dipercaya sebagai orang pertama yang menanamkan ajaran Islam di desa Danasari, adalah salah satu tradisi yang tak dipungkiri lagi sebagai ritual wajib warga Desa Danasari, khusunya dukuh Bungin. Bisa dibilang mbah Umar adalah “Cultural Hero” yang diartikan sebagai “para pahlawan suci, agung, dan sakti” yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kepentingan dan kebaikan umat, sehingga masyarakat mempercayainya sebagai “jalur mediasi penting” yang harus dilalui agar doa mereka didengar Tuhan. Para cultural hero tersebut dipercaya dapat menyentuh dzat Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga Tuhan mengabulkan permohonan doa dan harapan peziarah makam wong alim itu.
Ziarah ke makam dawa ini biasanya dilakukan pada hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon, mungkin masyarakat beranggapan bahwa di hari-hari itulah waktu yang tepat untuk mendoakan almarhum mbah Umar. Tapi akan menjadi lebih ramai oleh warga Danasari sampai warga Desa Widuri yang berbondong-bondong datang pada tanggal 16 maulud awal, yaitu hari haul-nya mbah Umar.

2.      Nilai-nilai Islami yang Terkandung dalam Ziarah ke Makam Dawa
Nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah kubur sendiri adalah untuk mengingatkan manusia akan kematian, bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tidak hanya itu, ziarah juga sebagai bentuk penghormatan untuk orang yang telah tiada, setidaknya jasa-jasa mereka di dunia masih bisa dirasakan hasilnya sampai sekarang.
Dalam berziarah pun tidak lupa membaca ayatullah, tahlil, dan doa lainnya, dengan tujuan agar ahli kubur diberikan tempat yang lapang dan diringankan dari siksa kubur.

IV.             ANALISA LAPANGAN
            Menurut saudari Ayu Thowilah* (warga dukuh Bungin, 24), ziarah ke makam dawa adalah tradisi yang telah mengakar sejak lama. Sesuai dengan anggapan bahwa masyarakat jawa sangat menjaga tradisinya sehingga tradisi itu masih dijalankan sampai saat ini.
            Ayu juga mengatakan bahwa ziarah ke makam dawa sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tapi memang lebih ramai di hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon apalagi di tanggal 16 maulud, tidak hanya disesaki oleh penziarah tetapi banyak penjual jajan-jajan pasar, bunga, mainan pun ada disana. Tujuan berziarah pun bermacam-macam, tapi untuk general dan tujuan yang paling jelas adalah untuk mengingat kematian serta mendoakan ahli kubur yang tidak lain adalah orang pertama yang menanamkan paham Islam di Desa Danasari.

V.                KESIMPULAN
            Istilah ziarah berasal dari bahasa Arab “mengunjungi” atau “bertandang” atau “nyekar” yang dalam istilah orang Jawa berarti meletakkan bunga di atas makam, sebuah istilah yang juga digunakan untuk kegiatan ritual ke makam. Ziarah ke makam dawa atau makam “mbah umar” yang dipercaya sebagai orang pertama yang menanamkan ajaran Islam di desa Danasari, adalah salah satu tradisi yang tak dipungkiri lagi sebagai ritual wajib warga Desa Danasari, khusunya dukuh Bungin.
            Ziarah ke makam dawa ini biasanya dilakukan pada hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon apalagi di tanggal 16 maulud, tidak hanya disesaki oleh penziarah tetapi banyak penjual jajan-jajan pasar, bunga, mainan pun ada disana. Tujuan berziarah pun bermacam-macam, tapi untuk general dan tujuan yang paling jelas adalah untuk mengingat kematian serta mendoakan ahli kubur yang tidak lain adalah orang pertama yang menanamkan paham Islam di Desa Danasari.
Nilai-nilai Islami yang terkandung dalam ziarah kubur sendiri adalah untuk mengingatkan manusia akan kematian, bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tidak hanya itu, ziarah juga sebagai bentuk penghormatan untuk orang yang telah tiada, setidaknya jasa-jasa mereka di dunia masih bisa dirasakan hasilnya sampai sekarang.
Dalam berziarah pun tidak lupa membaca ayatullah, tahlil, dan doa lainnya, dengan tujuan agar ahli kubur diberikan tempat yang lapang dan diringankan dari siksa kubur.



LAPORAN OBSERVASI
MUSEUM RONGGOWARSITO

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :  Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si




Disusun oleh :

         Fitri Meiyenny               (123411043)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2015



I.                   PENDAHULUAN
Museum Ronggowarsito adalah museum terbesar di provinsi Jawa Tengah, yang di dalamnya banyak memamerkan budaya-budaya asli jawa baik di masa animisme-dinamisme, Hindu-Budha berjaya, Islam muncul, sampai proses kemerdekaan Indonesia.
Pameran benda-benda peninggalan tersebut disusun secara apik di 4 area pameran yaitu area A, B, C, D, cukup luas bukan?
Dan hasil field study yang telah kami lakukan akan dipaparkan dalam pembahasan. Selamat membaca.

II.                RUMUSAN MASALAH
1.   Apa saja koleksi yang ada di dalam museum Ronggowarsito?
2.   Apa saja nilai budaya Jawa dilihat dari aspek sastra, pewayangan, arsitektur, ekonomi dan pendidikan?
3.      Bagaimana nilai-nilai Islam yang terkandung dalam budaya Jawa tersebut?

III.             PEMBAHASAN
A.    Koleksi yang Ada di dalam Museum Ronggowarsito
Pada hari minggu tanggal 10 Mei 2015 pukul 10.00 kami mahasiswa UIN Walisongo Semarang jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester 6 mengunjungi museum Ronggowarsito. Kami banyak menemui koleksi seperti fosil, bebatuan, blencong, gerabah, terakota, atap sirap, mustoko masjid, tandu jenderal Sudirman, gambaran pertempuran ambarawa, gambaran pertempuran Lima Hari di Semarang, miniatur pemberontakan DI/TII, arca ganesha, tombak lajer, warak, relief ramayana.
Di Museum juga terdapat koleksi berbagai macam keris, seperti tilam putih, jamang, sengkelat dan lainnya. Selain keris, ada juga berbagai pameran busana tradisional Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY. Ada juga berbagai miniatur bangunan seperti Masjid Agung Demak, Menara Masjid Kudus, Vredeburg, Klenteng Sampoo Kong, Vihara Tanah Putih, Pura, Gereja Bleduk, Gereja Gedangan, Masjid Baiturrahman.
Ada juga terdapat berbagai jenis koleksi wayang, seperti wayang krucil, wayang golek, wayang kulit, wayang parwa (Mahabarata), wayang kandha (Ramayana), wayang kidang kencana, wayang klithik gedhog, wayang dupara, wayang budha, wayang warta, wayang sadat, wayang suket, wayang kancil.
Selain itu, ada juga koleksi alat musik seperti angklung dan gamelan. Ada juga koleksi edukasi seperti palaentologika, meteroit, fosil gajah, kerangka gajah, uang zaman dahulu dan lain sebagainya dan ada juga gambaran rumah dan kehidupan ekonomi masyarakat Jawa lengkap dengan pakaian identitas Jawa.

B.     Nilai Budaya Jawa Dilihat dari Aspek Sastra, Pewayangan, Arsitektur, Ekonomi dan Pendidikan
1.      Aspek Sastra
Aspek ini terlihat dari berbagai koleksi angklung dan gamelan dimana masyarakat bisa memainkannya dan bisa menjadi alat musik iringan dalam sebuah pertunjukkan.

2.      Aspek Pewayangan
Aspek pewayangan ini kita bisa melihat dari berbagai koleksi wayang seperti wayang parwa yang menceritakan tentang Mahabarata dan wayang kandha yang menceritakan tentang Ramayana dan juga wayang yang lainnya yang masing-masing memiliki cerita tersendiri.

3.      Aspek Arsitektur
Aspek ini bisa dilihat dari miniatur bangunan-bangunan seperti miniatur Masjid Agung Demak, Menara Masjid Kudus, Vredeburg, Klenteng Sampoo Kong, Vihara Tanah Putih, Pura, Gereja Bleduk, Gereja Gedangan, Masjid Baiturrahman. Ada juga relief Ramayana, dimana relief tersebut sebagai simbol budaya Jawa.

4.      Aspek Ekonomi
Aspek Ekonomi ini kita bisa melihat dari gambaran kehidupan masyarakat Jawa yang digambarkan dengan rumah dan keluarga yang sedang melakukan mata pencahariannya dengan kesederhanaannya dan penuh kerja keras dalam melakukannya.

5.      Aspek Pendidikan
Kita bisa menemukan berbagai aspek pendidikan di museum Ronggowarsito, masyarakat bisa mengetahui keaneragaman budaya Jawa dimana setiap koleksi disertai dengan definisi dan penjelasan benda-benda koleksi, sehingga dapat manambah pengetahuan bagi pengunjung. Ada juga disertai dengan info mengenai fosil, palaentologi, kerangka gajah, koleksi uang kuno dan juga berbagai gambaran peperangan yang terjadi di Jawa.

C.    Nilai-nilai Islam yang Terkandung dalam Budaya Jawa
Nilai Islam tampak pada miniatur bangunan Masjid Agung Demak dan Menara Masjid Kudus (Masjid Aqsha). Bangunan Masjid Aqsha Kudus bercorak bangunan Hindu dalam bentuk susunan bata merah tanpa perekat yang mengingatkan pada kedhaton di komplek kerajaan Hindu. Bangunan tersebut dimaksudkan untuk menarik simpati masyarakat Hindu pada waktu itu memeluk Islam.
Masjid Aqsha Kudus memiliki corak khas Jawa dimana memakai bentuk atap bertingkat atau tumpang tiga, yang diterjemahkan sebagai lambang keislaman seseorang yang ditopang oleh tiga aspek, yaitu Iman, Islam dan Ihsan dimana ditafsirkan tingkat dasar atau permulaan, tingkat menengah dan tingkat akhir yang sejajar dengan jenjang vertikal Iman, Islam dan Ihsan tersebut. Selain itu juga dianggap sejajar dengan syari’at, thoriqot dan ma’rifat.
Selain masjid, nilai Islam juga terkandung pada wayang. Wayang adalah budaya Jawa, awalnya wayang berceritakan Jawa, dan sekarang juga ada wayang yang berceritakan tentang Islam dengan dilengkapi dengan pakaian wayang yang Islami.

IV.             KESIMPULAN
Museum Ronggowarsito adalah salah satu museum terbesar di Provinsi Jawa Tengah yang banyak memamerkan peninggalan-peninggalan zaman pra-jawa, jawa Hindu-Budha, jawa Kristen, jawa Islam, masa kemerdekaan, sampai dengan bermacam-macam mata pencaharian masyarakat jawa dan kebudayaaannya.
Semoga dengan apa yang telah kami paparkan dapat menumbuhkan rasa memiliki yang lebih dengan budaya-budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa.